Hai bunbes,
Pernah mengalami anak yang sudah memasuki usia sekolah, namun menolak untuk belajar? Mungkin, bukan masalah di anak yang malas atau tidak mau belajar. Bisa jadi karena anak belum siap untuk belajar. Kenali piramida belajar pada anak sebagai pondasi anak siap belajar.
Jujur, pengalaman pribadi saya sendiri melakukan kesalahan dalam mengajarkan anak belajar. Saya terlalu terburu-buru ingin anak bisa calistung. Saat usia 4 tahun pada anak pertama, saya langsung daftarkan di les calistung dekat rumah. Tanpa mengetahui apa yang perlu diperhatikan dalam persiapan anak dalam belajar.
Tahun lalu, saya melihat postingan di komunitas bunda kreatif memperkenalkan tentang piramida belajar pada perkembangan anak. Ternyata bukan masalah sensori dan motorik saja untuk mempersiapkan anak siap belajar. Ada 4 tahapan dasar sebagai pondasi anak siap belajar sekaligus mempersiapkan anak pada lingkungan luar nanti.
Oleh karena itu, dari apa yang saya pelajari akan sharing sedikit pemahaman yang dirangkum dengan bahasa ringan. Insya allah. Semoga bunbes, bisa memahami sebelum meminta anak belajar dan tanpa ada drama anak menolak belajar.
Yuk, mari kenali apa itu piramida belajar pada perkembangan anak.
Apa itu Piramida Belajar?
Piramida belajar (Pyramid of Learning) merupakan sebuah teori yang digunakan untuk membantu para orangtua, guru, pengajar dan lainnya untuk memahami perkembangan anak. Piramida belajar dibuat dan diperkenalkan oleh Taylor dan Trott, seorang terapis okupasi pada tahun 1991.
Secara sederhananya, piramida belajar ini adalah sebuah gambaran tahapan untuk menunjukan kemampuan anak dasar anak, sebelum mencapai sebuah kemampu
an kompleks untuk anak.
Kemampuan kompleks yang dimaksud seperti kemampuan bercerita, menulis, menghitung dan membaca. Sebelum kemampuan tersebut berhasil dicapai anak, perlu melewati level pada piramida belajar.
Pahami Dasar Perkembangan Anak Usia Dini
Kesalahan yang pernah saya lakukan adalah hanya memperhatikan sensori dan motorik anak. Dimana hanya sekedar bermain playdough, main pasir, loncat dan berlari-lari. Ternyata, pondasi dalam perkembangan anak usia dini cukup panjang dan kompleks.
Oleh karena itu, dari pembelajaran ini menyadarkan saya untuk segera mengejar ketinggalan pada anak yang belum tercapai. Agar ketika waktu sekolah nanti, memudahkan anak untuk mengikuti pembelajaran yang cukup kompleks.
Seperti sebuah ilustrasi dalam membangun rumah yang bertingkat, kokoh, dan cantik. Membutuhkan pondasi yang dibangun lebih dulu dengan cara yang tepat. Bukan membangun tiang ataupun tembok dulu kan.
Nah, sama halnya pada perkembangan anak. Agar anak bisa belajar dengan fokus, memahami instruksi setiap pembelajaran, dan memiliki pengendalian emosi yang baik. Dibutuhkan pondasi terlebih dahulu,walaupun tidak terlihat tapi menjadi bagian yang sangat penting.
Tahapan Pada Piramida Belajar
Pada piramida belajar untuk cara baca dan pemahamannya dimulai dari bawah ke atas. Dengan penjelasan setiap tahapannya sebagai berikut :
Level 1 Sistem Sensori
Pondasi sensori menjadi bagian paling penting dan dasar dalam perkembangan anak. Perlu diketahui juga ya bunbes, bahwa sensori pada anak terbagi lagi menjadi 7 bagian.
Masyaallah, untuk memahami perkembangan anak ternyata sangatlah detail. Oleh karena itu, sebagai orangtua itu juga perlu ikut terus belajar sampai tua nanti. Oke, kita balik lagi ya ke pembahasan sensori pada perkembangan anak.
Sistem sensori menjadi penting untuk dasar perkembangan anak. Dengan sensori lah anak jadi mengenal dan memahami dunia yang ada disekitarnya. Melalui penciuman, perabaan, pendengaran, penglihatan, dan lainnya.
Apabila sistem sensori anak belum terintegrasi dengan baik, anak bisa mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosi ataupun sulit fokus.
Sistem sensori terdiri menjadi 7 bagian, yaitu
- Taktil (peraba)
- Vestibular (keseimbangan)
- Proprioseptif (persendian)
- Rasa (pengecapan)
- Penglihatan
- Pendengaran
- Penciuman
Pernah nggak mengalami ketika anak tidak mau berjalan tanpa alas kaki, dengan alasan jijik atau tidak terbiasa dengan tekstur tanah. Hal ini menjadi salah satu ciri sistem sensori anak belum terintegrasi dengan anak. Maka, bisa saja mempengaruhi ke tahap perkembangan selanjutnya.
Contoh latihan untuk level 1 sistem sensori antara lain : bermain beras, bermain ayunan, berjalan di papan keseimbangan, merangkak di terowongan dan melompat.
Level 2 Sistem Sensorik Motorik
Sistem sensorik motorik merupakan sebuah kemampuan dasar pada anak untuk merasakan, menghubungkan gerakan anggota tubuh, dan meningkatkan kemampuan berpikir anak lebih tinggi.
Jadi, bagaimana anak berpikir dan merasakan apa yang dilakukan pada anggota tubuhnya. Pada tahapan ini anak bisa berlatih dengan cara naik turun tangga, duduk dengan stabil. Sistem sensorik motorik ini bisa muncul karena mulai terhubung antara otot, gerakan dan otak dengan baik.
Nah, sistem sensorik motorik anak terbagi menjadi 6 bagian, antara lain :
- Kestabilan postur
- Kesadaran dua sisi tubuh
- Perencanaan gerak
- Mengenal bagian tubuh
- Naturitas refleks
- Kemampuan menerima input
Apabila pada sistem sensorik motorik anak belum terintegrasi dengan baik, muncul tanda seperti anak mudah lelah, anak lelah saat menulis, atau terlihat lebih banyak bergerak sampai tidak bisa diam.
Level 3 Perceptual Motor
Pada tahapan perceptual motor menjadi kemampuan yang sedikit lebih kompleks. Dimana anak belajar menghubungkan apa yang mereka rasakan (perabaan, penglihatan, melalui panca inderanya) yang kemudian dilanjutkan dengan cara apa yang gerakan dan berpikir.
Salah satu contoh kegiatannya : ketika anak melihat sebuah huruf yang diberikan. Anak yang sudah mampu menirukan bentuk huruf dan membunyikan huruf. Ini adalah salah satu contoh kerjasama antara indera, gerakan dan otak.
Nah, tahap perceptual motor perlu dilatih secara maksimal sampai sebelum anak masuk sekolah. Karena ini menjadi bagian penting dan pastikan anak sudah siap belajar.
Sistem perceptual motor terbagi menjadi 6 bagian, antara lain :
- Auditori
- Persepsi visual
- Atensi
- Koordinasi mata dan tangan
- Kontrol otot mata
- Adaptasi postur
Contoh kegiatan yang membutuhkan perseptual motor yang baik yaitu anak memasukan balok berbentuk ke lubang bentuk yang sesuai, bermain bola (menangkap dan melempar bola), menyalin huruf, dan masih banyak lainnya.
Apabila anak tidak memiliki keterampilan perseptual motor yang baik, bisa saja anak mengalami kesulitan dalam membaca, menulis, atau mengikuti instruksi dari guru saat disekolah.
Level 4 Kognitif
Level kognitif menjadi level paling tinggi pada piramida belajar anak. Sebelum anak sampai di kognitif, perlu dipastikan level sebelumnya sudah baik dan mampu dilakukan oleh anak.
Ketika anak sudah sampai di level kognitif, anak mulai bisa berpikir lebih kritis, dapat memecahkan masalah yang dihadapi, membuat sebuah keputusan dengan baik, dan memahami hal-hal yang lebih rumit.
Kognitif terbagi menjadi 3 bagian yaitu
- Kemandirian
- Aktivitas akademik
- Perilaku
Pada tahap ini, anak sudah mampu melakukan kegiatan belajar dengan baik. Anak bisa menghitung dan membaca dengan optimal.
Pentingnya Orangtua Memahami Piramida Belajar
Bunbes, pernah nggak merasa minder atau kecewa sama anak sendiri? Kok anak tetangga seusia anak aku sudah bisa lancar bicara sedangkan anak sendiri belum. Atau membandingkan hal lainnya dengan anak orang lain?
Nah, bunbes itulah kenapa kita sebagai orangtua tidak boleh membandingkan kemampuan setiap anak. Karena sejatinya setiap anak punya kemampuan dan perkembangan yang unik serta tidak bisa dibandingkan.
Oleh karena itu, pentingnya orangtua mengenal dan memahami piramida belajar pada tahap perkembangan anak. Agar memahami perkembangan dan pertumbuhan anak sendiri. Sudah bisa sampai mana, hal apa yang belum maksimal, dan apa yang sedang dibutuhkan sang anak. Karena mereka memiliki kebutuhan dan kemampuan yang berbeda.
Pentingnya memahami piramida belajar lainnya antara lain :
- Jadi lebih paham pondasi pada tumbuh kembang anak itu sangat banyak dan penting
- Dapat menghindari ekspektasi yang berlebihan pada tumbuh kembang anak
- Dapat memberikan aktivitas bermain pada anak dengan cara edukatif yang menyenangkan
- Optimalkan cara belajar anak sesuai dengan kemampuan anak
- Memberikan stimulasi yang tepat di setiap kebutuhan perkembangan anak
- Bisa menjadi langkah pencegahan keterlambatan tumbuh kembang anak. Karena sudah memahami tahapan yang perlu dilalui pada anak
Penutup
Sebelum kita sebagai orang tua mengucapkan “kok anak menolak belajar”, “anak susah belajar”, atau “anak malas belajar”. Perlu hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana pondasi belajar pada anak apakah sudah cukup. Bagaimana perkembangan sensorik, sensorik motorik, perseptual motorik dan kognitif pada anak sudah sesuai dengan usianya kah?
Pahamilah bahwa anak bukanlah orang dewasa yang berbadan mungil, namun mereka adalah seorang anak yang sedang belajar, bertumbuh, dan berkembang untuk bisa menghadapi kehidupan dunia luar kelak.
Sebagai orang tua bukan berekspektasi besar dengan kemampuan anak, namun memahami dan mengajarkan tahap demi tahap agar anak dapat tumbuh dengan baik. Terutama dengan menanamkan pondasi yang kuat sesuai dengan piramida belajar pada perkembangan anak.
Semoga bermanfaat.






Posting Komentar